La Rue sayang
Salah satu dari pemandangan pertama yang kulihat di Indonesia adalah wanita cantik berkain yang melangkah di sepanjang jalan pedesaan dengan membawa keranjang berisi tumpukan tinggi buah-buahan dikepalanya. Anak perempuannya berjalan disampingnya. Tanpa peringatan, wanita itu berputar, membungkuk, dan memukul pantat anaknya, semua dilakukannya tanpa menjatuhkan buah-buahan dikepalanya. Pemandangan itu adalah metafora yang tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia saat ini__Indah, tertata dengan serasi, dan tidak ragu-ragu menggunakan kekerasan (lihatlah Timor).
Bagaimana kau akan memerintah sebuah tempat yang memiliki 13.700 pulau dengan populasi terbesar keempat di dunia, dan persebaran rata penganut Muslim, Hindu, Buddha, dan Kristen? Ditambah pula dengan nilai mata uang yang anjlok sejak krisi moneter Asia dan jawaban singkatnya adalah kau tidak akan bisa. Kau hanya bisa melakukan apa yang jamak dilakukan oleh banyak turis disini------tunggangi saja ombak legendaris itu untuk berselancar.
Presiden Indonesia saat ini adalah seorang pria bernama Abdulrahman Wahid, yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Selama 2 minggu kami berada disini, Gus Dur telah mendapatkan tuduhan penyelewengan dana, kroniisme, korupsi, tidak kompeten dalam memimpin, dan mengatakan hal-hal buruk tentang para pemimpin negara Asia lainnya. Dia juga mengusulkan untuk menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi Asia Tenggara, gagasan yang sama tidak populernya dengan bir Bintang pada siang hari dan sepiring gado-gado selama bulan puasa Ramadhan yang sedang berlangsung saat ini.
Di luar politiknya, aku jatuh cinta pada pemandangan indah dan eksotis negara kepulauan ini; kerbau berbalur lumpur yang menarik para pria yang menjalankan bajak di sepanjang sawah; candi-candi Hindu di Bali yang berlapis lumut dan beararoma dupa, dengan kolam-kolam teratai dan senandung para pendeta yang memberikan kedamaian; atau pantai-pantai terpencil yang secantik pemandangan di kartu pos, yang diketahui keberadaanya oleh para turis petualang, beberapa ekor sapi, dan perahu nelayan berkondisi mengenaskan. Pasar-pasar tumpah yang penuh warna dan keramaian menutup jalan di daerah pinggiran. Orang-orang dewasa menjual ikan, ayam, dan buah-buahan dalam keranjang kayu yang diltetakkan sembarangan. Anak-anak yang murah senyum duduk di atas gerobak atau aap bus, menonton semua itu.
Jika kami menghilang, kau mungkin akan bisa menemukan kami di kepulauan Gili, di pesisir Lombok. Pulau-pulau disana memiliki perpaduan yang tepat untuk sebuah pelarian--tidak ada mobil, tidak ada jalan, listrik dan air bersih hanya ada ditempat-tempat tertentu. Pondok-pondok di pantai disewakan seharga 4 doalr semalam.... untuk ber2... sudah termasuk mangga, pisang, dan kue dadar yang disajikan saat sarapan. Dan, tempat tidur gantung yang tersedia menolongmu dan melahap buku yang selalu ingin kaubaca.
Dengan cinta,Franz

Tidak ada komentar:
Posting Komentar