Selasa, 01 Maret 2016

Oil Canvas

Hari Minggu, perjalanan pulang dari tempat les bahasa inggris kami melintasi pameran lukisan, temanku tiba-tiba terhenti langkahnya dan berjalan ke arah lukisan-lukisan itu,

" Mau liat pameran lukisan ga ? " katanya.

" ga ah " jawabku.

alasanku tidak mau memandangi lukisan karena hanya dengan melihat lukisan saja membuatku jadi pemikir, membuatku bimbang.

"hayok lah " paksanya.

Warna lukisan yang  sangat menonjolkan dengan garis cat kuning sangat terang dan tegas. Garis melengkung, sepertinya aku mengenali lukisan ini.

" cel, kok aneh ya cara lukisnya ? " tanyanya lagi sambil mengamati lukisan itu

" dia ngelukisnya langsung dari tube catnya " balasku.

" murah dong? " katanya lagi.

"engga dong, ga gampang lah punya bakat lukis kayak gini,  " jawabku.

kemudian kita berdua melihat nama pelukisnya, namanya Affandi.

Kami mengamati satu persatu lukisan, lalu aku teringat papah, lebih tepatnya ingat koleksi lukisan papah di rumah Yogya. Aku mencintai warna sejak balita, sejak itu aku fokus melukis akhirnya aku berhenti melukis saat SMA

" kenapa lo ga kuliah seni rupa cel ? " katanya lagi

Masalah bakat dan takdirku ini tidak jalan beriringan. Mungkin aku kesal tidak mengikuti bakatku, tapi aku kan lebih kesal lagi jika aku tidak membuat orang tua senang.

"engga " jawabku sambil tersenyum karena teringat papahku lagi.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catcher in the rye

Buku ini mengenai seorang anak remaja laki-laki yang sedang menghadapi beberapa kegalauan  pada dirinya kemudian membuat keputusan stay s...